Tuesday, June 18, 2019

Pengalaman Sedih Saat Rendra Terkena Demam Berdarah Dengue

Siapa sih Orang tua yang tak panik ketika sang anak sakit? Hal itulah yang kami alami ketika putra kami Narendra  terkena Demam Berdarah Dengue (DBD). Sempat terpukul sekali aku waktu itu. Apalagi di Indonesia kejadian DBD juga cukup tinggi kan. Musim hujan saat ini banyak balita dan batita yang terserang demam. Ditembah lagi dengan berbagai macam bencana tentu penyebaran penyakit musiman seperti demam berdarah, typus, dan sebagainya semakin tak terelakkan. Anak-anak pun bisa menjadi korban ketika sistem imun tubuh sedang lemah.

Awalnya terjadi pada hari Senin siang. Dia mulai rewel dan mulai sulit untuk makan. Setelah di cek, suhu tubuhnya mencapai 38 derajat celcius. Biasanya jika masih aktif dan masih mau makan dan minum, saya tidak terlalu khawatir. Namun, kali ini anak saya terlihat lemah dan lesu. Apalagi matanya terlihat sayu. Melihat gelagat seperti itu saya mencoba untuk memberikan penanganan pertama. Selain mencoba untuk mengompresnya dengan air hangat kuku, saya juga memberikan sirup paracetamol anak ketika suhu tubuhnya mencapai angka 39 derajat.
Biasanya anak laki-laki mudah terkena step jika panasnya sudah mencapai 40 atau lebih dari 40 derajat celcius. Tapi menurut berbagai artikel yang saya baca, hal tersebut berbeda-beda juga, akan sangat bergantung pada ketahanan tubuh anak masing-masing.

Saya mulai khawatir anak saya kenapa-napa. Bayang-bayang radang selaput otak pun sempat melintas di pikirannya. Padahal demam ini bukan yang pertama kalinya di alami Rendra. Istri saya sampaikan untuk menunggunya hingga 72 jam agar bisa memastikan bahwa si kecil bisa membaik atau tidak. Jika panas biasa, biasanya anak memang lincah dan tidak ada problem dalam makan. Namun, memang setelah masuk hari kedua anak saya jadi kurang doyan makan. Disinilah saya mulai rada was-was.

Setelah memasuki hari kedua observasi, akhirnya saya memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit Pada hari rabu. Setelah bertemu dokter spesialis anak, saya diminta untuk melakukan cek darah terhadap anak saya. Kemudian saya membawa si kecil ke laboratorium. Dari gejalanya memang belum bisa ditebak. Saat itu anak saya tidak memiliki radang atau sariawan. Hanya panas tinggi dan terlihat sayu dan lemas.



Itulah kali pertama si kecil diambil darahnya. Saya sampai tak tega melihatnya karena beberapa cc darah harus tertampung dalam sebuah tabung. Awalnya saya memalingkan wajah anak saya agar tidak trauma pada jarum suntik. Saya cukup terkejut Rendra cuma meringis sedikit dan tidak menangis. Mungkin karena sudah sangat lemat kondisinya.

Setelah menunggu selama satu jam akhirnya hasil lab keluar. Anak saya dinyatakan terindikasi infeksi bakteri karena saat itu trombositnya masih kisaran 211 ribu. Masih diambang batas normal diatas 150 ribu. Saat itu memang dokter menyarankan untuk rawat inap. Jadilah kami menginap di RS Claire Medika Luwuk.dengan kondisi Rendra diinfus dan alhamdulillah juga tanpa menangis, mungkin karena masih lemas sekali. Selama 3 hari pertama panasna selalu naik turun. Pagi panas, malamnyaturun lagi dan bisa bermain-main seperti biasa. di hari keempat infusnya sudah dilepas dan cuma diberi obat oral. Sorenya istri saya meminta pemeriksaan lab lagi, dan hasilnya bikin kami cukup shcok karena trombositnya tinggal 65ribu. Keesokan harinya kami minta pulang paksa dan pindah ke RSUD Luwuk setelah menyelesaikan administrasi di kasir dan meminta berkas pendukung untuk klaim di asuransi prudential nanti.



Setelah sampai di RSUD Luwuk langsung ke UGD dan diinfus lagi sekalian pengambilan darah untuk tes di lab. Hasilnya tidak lama keluar dan trombositnya tinggal 50rb. Dokter segera memberikan resep dan pindah ke ruang perawatan selama 4 hari dan alhamdulillah kondisi rendra perlahan-lahan semakin membaik trombosit mulai meningkat dan sudah diperbolehkan pulang. Di RSUD Luwuk kami menggunakan BPJS kesehatan ditambah asuransi inhealth dari kantor.

Dari pengalaman ini saya banyak belajar lagi bagaimana cara dan penanganan anak terutama saat terkena demam tinggi. Jangan sampai anak dehidrasi atau bahkan panas tinggi. Orang tua harus tetap waspada dengan segala hal yang akan terjadi. Orang tua juga harus banyak baca tentang beberapa gejala demam dan penanganan terbaiknya di rumah sebelum di bawa ke klinik atau ke rumah sakit, karena demam adalah sistem alret atau warning tubuh ketika sedang di serang virus atau bakteri secara normal. Semoga semakin banyak orang tua yang teredukasi dan membaca tentang masalah penyakit langganan anak-anak agar bisa menentukan dan mengantisipasi lebih dini.

1 comment:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...